Oleh : dr. Tedy Hartono , SH , MCS
Indonesia kembali menghadapi ironi yang terus berulang dari tahun ke tahun. Di satu sisi, sejumlah gunung api menunjukkan peningkatan aktivitas dan memuntahkan abu vulkanik yang mengancam permukiman warga. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatera, menyebarkan asap pekat hingga melintasi batas provinsi bahkan negara. Fenomena ini bukan lagi sekadar peristiwa alam biasa, melainkan cerminan lemahnya tata kelola mitigasi bencana yang seharusnya semakin matang dari waktu ke waktu.
Indonesia memang berada di Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), sehingga aktivitas vulkanik merupakan konsekuensi geografis yang tidak dapat dihindari. Namun, dampak yang ditimbulkan sebenarnya dapat diminimalkan melalui sistem mitigasi yang kuat, edukasi publik yang memadai, dan kesiapan layanan kesehatan yang merata. Demikian pula dengan karhutla. Berbeda dengan letusan gunung api yang merupakan proses alamiah, sebagian besar kebakaran hutan justru berakar pada aktivitas manusia, mulai dari pembukaan lahan hingga lemahnya pengawasan terhadap kawasan rawan terbakar.
Dampak sosial yang muncul sangat luas. Letusan gunung api memaksa masyarakat meninggalkan rumah, lahan pertanian, serta sumber penghidupan mereka. Pengungsian yang berlangsung berhari-hari bahkan berminggu-minggu sering kali menimbulkan persoalan baru, seperti kepadatan hunian sementara, keterbatasan air bersih, gangguan pendidikan anak, hingga tekanan psikologis akibat ketidakpastian masa depan.
Karhutla juga menghasilkan dampak sosial yang tidak kalah besar. Ketika asap menutupi langit, sekolah terpaksa diliburkan, aktivitas ekonomi melambat, penerbangan terganggu, dan mobilitas masyarakat menjadi terbatas. Pedagang kecil kehilangan pembeli, petani mengalami gangguan produksi, sementara kelompok masyarakat berpenghasilan harian menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Dalam jangka panjang, bencana berulang berpotensi memperluas lingkaran kemiskinan dan memperburuk kualitas hidup masyarakat.
Di balik kerugian ekonomi dan sosial tersebut, ancaman terbesar sesungguhnya adalah kesehatan masyarakat. Abu vulkanik maupun asap karhutla mengandung partikel halus yang mampu menembus saluran pernapasan hingga ke jaringan paru-paru. Paparan berulang dapat menyebabkan gangguan kesehatan akut maupun kronis.
Anak-anak merupakan kelompok paling rentan. Sistem pernapasan yang belum berkembang sempurna membuat mereka lebih mudah mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk berkepanjangan, iritasi mata, hingga serangan asma. Selain itu, kualitas udara yang buruk mengurangi aktivitas fisik dan dapat mengganggu proses belajar mereka.
Pada kelompok dewasa, paparan debu dan asap dapat menimbulkan keluhan seperti sesak napas, nyeri tenggorokan, iritasi mata, sakit kepala, serta penurunan produktivitas kerja. Bagi pekerja lapangan, risiko tersebut meningkat karena intensitas paparan yang lebih tinggi dibanding masyarakat umum.
Sementara itu, kelompok lansia menghadapi ancaman yang lebih serius. Banyak di antara mereka telah memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus, atau penyakit paru kronis. Debu vulkanik dan asap karhutla dapat memperburuk kondisi tersebut dan meningkatkan risiko rawat inap bahkan kematian.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, terdapat lima langkah medis sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak buruk paparan debu dan asap.
Pertama, gunakan masker N95 atau masker dengan kemampuan filtrasi setara ketika berada di luar ruangan. Masker kain biasa tidak cukup efektif menyaring partikel halus.
Kedua, kurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara buruk. Bila memungkinkan, tetap berada di dalam ruangan dengan ventilasi yang baik dan terlindung dari masuknya asap atau debu.
Ketiga , perbanyak konsumsi air putih. Hidrasi yang baik membantu menjaga kelembapan saluran pernapasan dan mengurangi iritasi akibat partikel udara.
Keempat , lindungi mata dengan kacamata pelindung dan segera membersihkan wajah, tangan, serta pakaian setelah beraktivitas di luar ruangan.
Kelima , kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru atau jantung harus segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala sesak napas, batuk berat, atau penurunan kondisi umum.
Pada akhirnya, bencana tidak selalu dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang konsisten, dan kesiapsiagaan masyarakat. Letusan gunung api dan karhutla seharusnya menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga pada keselamatan manusia. Ketika abu vulkanik dan asap kebakaran kembali menutupi langit Nusantara, pertanyaan yang harus dijawab bukan hanya bagaimana memadamkan api atau mengevakuasi warga, melainkan mengapa bangsa ini masih menghadapi tragedi yang sama berulang kali. Sebab bencana alam mungkin tidak dapat dihentikan, tetapi kegagalan belajar dari pengalaman adalah bencana yang sepenuhnya berada dalam kendali manusia.