oleh : Dr. dr. Hisnindarsyah, SpKL(K), M.Kes M.H., CFEM
Disfungsi ereksi (DE) masih menjadi salah satu masalah kesehatan seksual pria yang cukup sering ditemukan, terutama pada kelompok usia lanjut. Kondisi ini ditandai dengan ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual secara memuaskan. Meskipun sering dianggap sekadar gangguan seksual, DE sebenarnya berkaitan erat dengan kondisi kesehatan secara menyeluruh, termasuk gangguan vaskular, hormonal, neurologis, hingga faktor psikologis.
Secara global, angka kejadian DE terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup masyarakat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pria usia di atas 50 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan ereksi akibat perubahan fungsi pembuluh darah, penurunan hormon, penyakit metabolik, serta gaya hidup yang kurang sehat. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup, hubungan pasangan, rasa percaya diri, hingga kesehatan mental pasien.
Selama ini, penanganan DE lebih banyak berfokus pada terapi farmakologis seperti penggunaan PDE-5 inhibitor, terapi psikoseksual, dan intervensi bedah pada kasus tertentu. Namun, tidak semua pasien memberikan respons yang optimal terhadap terapi konvensional tersebut. Sebagian pasien bahkan mengalami frustrasi akibat pengobatan yang berulang tanpa hasil memuaskan. Kondisi inilah yang mendorong berkembangnya pendekatan terapi yang lebih komprehensif dan holistik, salah satunya melalui Terapi Oksigen Hiperbarik (TOHB).
TOHB merupakan metode terapi dengan memberikan oksigen murni dalam ruang bertekanan tinggi. Pada kondisi tersebut, kadar oksigen yang larut dalam darah meningkat secara signifikan sehingga distribusi oksigen ke jaringan tubuh menjadi lebih optimal. Awalnya, terapi ini banyak digunakan untuk menangani penyakit dekompresi pada penyelam, luka kronis, dan gangguan vaskular. Namun, perkembangan penelitian menunjukkan bahwa TOHB juga memiliki potensi dalam memperbaiki fungsi ereksi pria.
Mekanisme kerja TOHB pada disfungsi ereksi berkaitan erat dengan peningkatan oksigenasi dan perbaikan fungsi vaskular. Ereksi pada dasarnya merupakan proses yang sangat bergantung pada kelancaran aliran darah menuju korpus kavernosum penis. Ketika pembuluh darah mengalami kerusakan atau sirkulasi darah terganggu, kemampuan ereksi pun menurun. TOHB membantu meningkatkan angiogenesis atau pembentukan pembuluh darah baru, memperbaiki fungsi endotel pembuluh darah, serta mempercepat regenerasi jaringan yang mengalami kerusakan akibat hipoksia maupun iskemia.
Sejumlah studi klinis menunjukkan bahwa pasien dengan gangguan vaskular kronis yang menjalani TOHB mengalami peningkatan aliran darah dan perbaikan fungsi ereksi. Efek terapi ini terlihat lebih nyata pada pasien yang sebelumnya kurang responsif terhadap pengobatan standar. Selain itu, TOHB juga dilaporkan mampu mempercepat penyembuhan jaringan dan meningkatkan metabolisme sel, sehingga mendukung pemulihan fungsi seksual secara lebih menyeluruh.
Meski demikian, TOHB bukanlah terapi tunggal yang dapat menggantikan seluruh metode pengobatan DE. Pendekatan terbaik tetap memerlukan terapi yang terintegrasi. Perubahan gaya hidup seperti olahraga rutin, menjaga berat badan ideal, pola makan sehat, berhenti merokok, dan pengendalian penyakit metabolik tetap menjadi dasar penting dalam pengobatan. Dukungan psikologis dan komunikasi yang baik dengan pasangan juga berperan besar dalam keberhasilan terapi. Dalam hal ini, TOHB lebih tepat diposisikan sebagai terapi komplementer yang memperkuat hasil pengobatan secara keseluruhan.
Pendekatan holistik menjadi kunci utama dalam penanganan disfungsi ereksi modern. Penanganan tidak lagi hanya berfokus pada gejala, tetapi juga memperhatikan faktor biologis, psikologis, sosial, dan kualitas hidup pasien. Karena itu, keterlibatan berbagai disiplin ilmu seperti urologi, rehabilitasi medik, psikologi, hingga terapi hiperbarik menjadi semakin penting.
Prospek penggunaan TOHB dalam terapi DE dinilai cukup menjanjikan. Kemajuan teknologi hiperbarik serta meningkatnya penelitian klinis membuka peluang terapi ini menjadi bagian dari protokol pengobatan yang lebih luas di masa depan. Namun, hingga saat ini masih diperlukan penelitian berskala besar dan standardisasi protokol terapi untuk memastikan efektivitas, keamanan, serta indikasi penggunaan TOHB secara lebih jelas.
Sehingga dapat kita pahami bahwa disfungsi ereksi bukan sekadar masalah seksual, melainkan bagian dari kesehatan pria secara menyeluruh. Kehadiran TOHB memberikan harapan baru dalam upaya menghadirkan terapi yang lebih komprehensif, integratif, dan berorientasi pada kualitas hidup pasien. Dengan pendekatan ilmiah dan penelitian yang terus berkembang, TOHB berpotensi menjadi salah satu inovasi penting dalam terapi holistik disfungsi ereksi pria di masa kini dan mendatang.
*) Dosen Prodi Spesialis Kedokteran Kelautan FK Universitas Hang Tuah