Sambas, PW: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya” begitulah ungkapan The Founding Fathers kita, sehingga Tim Lacak Jejak Prajurit ‘Jaguar Yudha Khatulistiwa’ dibawah pimpinan Komandan Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan (Yonmarhanlan) XII Mayor Marinir Anton Koerniawan, M.Tr.Opsla., terpanggil melaksanakan penelusuran terhadap pelaku sejarah kisah perjuangan Korps Komando (KKO) di perbatasan Indonesia Malaysia tepatnya Dusun Aruk – Desa Sebunga, Kec. Sajingan Besar, Kab. Sambas, Kalbar. Jum’at (13/11/2020).
Kegiatan anjangsana dan penelusuran pelaku sejarah perjuangan sukarelawan dan prajurit Korps Komando (KKO) AL dalam menjaga kedaulatan Negara dan menegakkan kemerdekaan RI di perbatasan Indonesia – Malaysia merupakan perintah lisan Pimpinan yang dirangkai untuk memperingati Hari HUT Ke-75 Korps Marinir TNI Angkatan Laut.
Dalam sebuah wawancara Danyonmarhanlan XII yang didampingi Pasi Intel Kapten Marinir Agus Hartono terhadap tokoh masyarakat sekaligus pelaku sejarah yang tergabung dalam perjuangan prajurit KKO diperbatasan yaitu Rofinus Dinggah beliau seorang sukarelawan yang telah mendarma baktikan jiwa raganya hampir selama 15 tahun untuk negara yang didampingi oleh Kepala Desa Sebungah Bapak Bernadus.
Meski sudah berusia 90 tahun namun penuturannya begitu tegas dan jelas ditambah fisik masih bugar, mengisahkan bahwa keterlibatan Bapak Rofinus Dinggah dalam sejarah perjuangan KKO di perbatasan Indonesia – Malaysia tepatnya di Desa Aping (Sebungah) kala tahun 1961 – 1975 sebagai Tenaga Bantuan Organisasi (TBO) juga bertindak sebagai informan untuk kebutuhan taktik dan strategi KKO sekaligus pemandu pergerakan Prajurit KKO TNI Angkatan Laut menyusup lewat perbatasan masuk ke Serawak dan Borneo Utara (Sabah) dalam sebuah operasi Dwikora atau yang populer dikenal Konfrontasi Indonesia Malaysia.
Ditambahkan, Bapak R. Dinggah dengan ikhlas memberikan bantuan baik berupa moril dan materil mengingat kala itu Bapak R. Dinggah menjabat sebagai Kepala Desa dan dengan tangan terbuka menerima kedatangan prajurit KKO AL pada tahun 1964 dibawah pimpinan Mayor Sarfa (Danyon) berkedudukan di Setingga, dan Letda.T. Warman (Danton) berkedudukan di Desa Aruk, rela dengan menyediakan salah satu rumah kerabatnya untuk ditempati sekaligus sebagai markas dalam menyusun strategi pertempurannya.
Konfrontasi Indonesia- Malaysia yang berlangsung selama hampir 6 tahun yaitu antara Tahun 1961 – 1966 dimana klimaksnya pada tahun 1964 terjadi pertempuran hebat di hutan belantara perbatasan antara pasukan Indonesia terdiri dari unsur tentara resmi pemerintah yaitu TNI (RPKAD, KKO, Angkatan Udara), juga tentara tidak resmi yaitu para Sukarelawan dimana Bapak R. Dinggah sendiri ada didalamnya melawan Tentara Laut Diraja Malaysia dengan para sekutunya.
Menurut catatan sejarah Nasional, bahwa Konfrontasi Indonesia – Malaysia sendiri berakhir pada 11 Agustus 1966, dimana Kerajaan Malaysia dan pemerintah Indonesia menyepakati penyelesaian konflik dan normalisasi hubungan antara kedua negara.
Diakhir penuturannya Bapak R. Dinggah dihadapan Danyonmarhanlan XII mengharapkan agar pemerintah ada perhatian terhadap kelangsungan hidupnya mengingat dharma bhaktinya yang sudah dicurahkan untuk kepentingan bangsa dan negara terbukti dengan diterimanya sebuah Piagam Penghargaan atas jasanya dari KKO TNI AL pada tahun 1974.