TIAKUR, peloporwiratama.co.id – Yayasan WWF Indonesia bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten MBD menggelar pelatihan pemilahan dan daur ulang sampah selama dua hari, 2–3 Juni 2025, di Balai Desa Wakarleli, guna mendorong peran aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis konservasi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kolektif mendorong ekowisata berkelanjutan di kawasan konservasi perairan. Dalam pembukaan acara, Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Maluku Barat Daya yang diwakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dalma Eoh, menyampaikan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah, terutama di wilayah pesisir yang rentan terhadap kerusakan ekosistem.
Pelatihan ini menjadi strategi lanjutan dari program “Responsible Marine Tourism” yang diinisiasi WWF Indonesia. Program tersebut bertujuan mengurangi kebocoran sampah plastik laut yang menurut data, 80 persen berasal dari aktivitas daratan.
Pulau Moa, yang merupakan bagian dari kawasan konservasi perairan seluas 1,3 juta hektar—atau 4 persen dari target konservasi nasional—mengalami tekanan akibat minimnya sistem pengelolaan sampah. Berdasarkan pendataan WWF tahun 2023 di Pantai Syota, sekitar 40 persen sampah yang ditemukan berupa plastik keras.
Kondisi ini mendorong berbagai komunitas lokal seperti Plastic Free Ocean Network (PFON) dan pengelola bank sampah setempat untuk turut dilibatkan dalam pelatihan. Peserta tidak hanya diajak memilah sampah, tetapi juga dilatih mengolahnya menjadi produk kreatif dan bernilai jual.
“Saya sangat berharap peserta dapat mengikuti pelatihan ini dengan sungguh-sungguh agar bisa mengolah sampah menjadi produk kreatif yang bernilai ekonomis. Sampah bukan hanya masalah, tapi juga peluang,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten MBD, Dalma Eoh, saat memberikan sambutan.
Sementara itu, Koordinator WWF Indonesia Kabupaten MBD, Hery Siahaan, menekankan pentingnya keterlibatan warga secara aktif dalam pengelolaan sampah dari rumah tangga.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menjaga laut dan pesisir, tetapi juga menerapkan praktik ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Hery.
Menurut Hery Dengan semangat konservasi dan penguatan ekonomi lokal, pelatihan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Lebih dari itu, praktik daur ulang yang terencana dapat membuka peluang usaha baru dan memperkuat ekowisata berbasis masyarakat di Kabupaten Maluku Barat Daya,”pungkasnya. (PW.19)