MDP Sang Pakar Borong Novel “The Advokat” Karya WBP Lapas Ciamis

CIAMIS, JABAR – PW.Dukungan terhadap karya literasi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciamis datang dari kalangan akademisi dan praktisi hukum. Prof. Dr. Musa Darwin Pane, S.H., M.H., atau yang populer disapa MDP, memborong novel berjudul The Advokat karya warga binaan Lapas Ciamis, Muhamad Ijudin Rahmat.

Musa Darwin Pane yang menjabat Ketua Divisi Legislasi dan Layanan Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung serta dikenal sebagai pakar hukum pidana dan salah satu Dewan Pakar PERADI, berencana membagikan novel tersebut secara gratis kepada mahasiswa dan rekan sejawatnya di kalangan advokat.

Bagi MDP, aksi tersebut bukan sekadar membeli buku dalam jumlah banyak. Ia melihat karya The Advokat sebagai bentuk dukungan terhadap proses pembinaan di dalam Lapas, khususnya melalui jalur literasi dan kreativitas.

Selain itu, pembelian novel tersebut menjadi bentuk dukungan moral kepada penulisnya yang merupakan warga binaan dan pernah tersangkut persoalan hukum setelah menjalankan profesinya dalam mendampingi masyarakat dalam sengketa lahan.

Menurut MDP, novel The Advokat memiliki nilai tersendiri karena sejumlah kisah yang diangkat di dalamnya berkaitan dengan perkara nyata dan memiliki jejak digital yang dapat ditelusuri. Hal itu membuat buku tersebut menarik untuk dibaca, terutama oleh kalangan mahasiswa hukum, advokat maupun calon advokat.

Ia menilai pengalaman yang dituangkan penulis melalui karya tersebut dapat menjadi bahan refleksi mengenai dinamika penegakan hukum sekaligus bagaimana seseorang menjalani proses penyelesaian persoalan hukum dan berusaha menjadi penengah dalam berbagai perkara.

“Buku ini layak dibaca oleh para advokat maupun calon advokat. Ada pengalaman yang berharga di dalamnya, termasuk bagaimana penulis menghadapi berbagai persoalan dan menyelesaikan perkara,” ujar MDP.

Lebih jauh, MDP melihat The Advokat tidak hanya berbicara tentang hukum. Buku tersebut juga membawa pesan mengenai kesempatan kedua dalam kehidupan.

Menurutnya, proses pembinaan warga binaan seharusnya tidak berhenti pada masa menjalani pidana. Ketika seseorang diberikan ruang untuk berkarya, mengembangkan kemampuan dan membangun kembali kepercayaan dirinya, maka selalu ada peluang untuk kembali memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Buku ini juga dapat menjadi contoh bagi semua, bukan hanya warga binaan, tetapi masyarakat luas, bahwa kesempatan selalu ada untuk bangkit ketika kita mau bangkit,” katanya.

MDP juga memberikan apresiasi kepada Lapas Kelas IIB Ciamis yang dinilainya telah memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan melalui kegiatan literasi.

Menurut dia, lahirnya sebuah karya dari balik Lapas menunjukkan bahwa pembinaan tidak hanya berkaitan dengan aspek kedisiplinan, tetapi juga menyentuh pengembangan intelektual, kreativitas dan mental warga binaan.

“Apresiasi setinggi-tingginya atas keberhasilan Lapas Kelas IIB Ciamis yang telah berhasil melakukan pembinaan di bidang literasi, bahkan karya tersebut dibuat dalam delapan bahasa internasional. Ini sangat membanggakan,” ucap MDP.

Dukungan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa karya warga binaan patut diberi ruang untuk dikenal dan diapresiasi. Literasi dapat menjadi salah satu jalan bagi seseorang untuk membangun kembali masa depannya setelah menyelesaikan masa pidana.

Novel The Advokat karya Muhamad Ijudin Rahmat pada akhirnya tidak hanya menjadi sebuah buku. Di balik karya tersebut terdapat proses pembelajaran, pengalaman hukum, refleksi kehidupan, serta pesan bahwa masa lalu tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan seseorang.

Ketika kesempatan diberikan dan dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, seseorang tetap memiliki ruang untuk berkarya, belajar dan kembali memberi manfaat bagi lingkungan serta masyarakat.

Kalau ingin lebih “menggigit” ala headline media nasional, saya sarankan judul alternatif: “Dari Balik Lapas ke Tangan Akademisi, MDP Borong Novel ‘The Advokat’ Karya WBP Ciamis”.***

Jurnalis: FAI

Related posts