CIAMIS, JABAR— PW.Kepemimpinan tidak lahir hanya dari sebuah jabatan. Ia ditempa melalui proses, kedisiplinan, tanggung jawab, integritas dan keberanian mengambil peran. Pesan itulah yang tercermin dalam pelaksanaan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) 2026 di SMP Negeri 1 Ciamis, Jum’at 2/10/2026.
LDKS menjadi bagian dari upaya sekolah menyiapkan regenerasi organisasi siswa sekaligus memberikan pengalaman kepada peserta untuk memahami arti kepemimpinan, kerja sama dan tanggung jawab sejak berada di bangku sekolah.
Kegiatan tahunan tersebut melibatkan 71 peserta yang berasal dari berbagai unsur siswa, mulai dari perwakilan kelas VII dan VIII, pengurus OSIS hingga calon koordinator ekstrakurikuler. Pelaksanaannya mendapat dukungan dari guru, pengurus OSIS serta unsur sekolah lainnya.
Ketua Pelaksana LDKS SMPN 1 Ciamis 2026, Iman Suryaman, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut dirancang tidak hanya untuk mencari calon pengurus organisasi, tetapi juga menumbuhkan karakter kepemimpinan pada diri siswa.
“Kami berharap anak-anak yang mengikuti LDKS memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi, bertanggung jawab, berintegritas, dan mampu membangun karakter sesuai harapan sekolah. Mereka juga kami siapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan siswa di SMPN 1 Ciamis,” ujar Iman.
Menurutnya, kepemimpinan merupakan kemampuan yang perlu dibangun melalui pengalaman. Karena itu, siswa diberikan ruang untuk belajar mengambil tanggung jawab, berkomunikasi, bekerja sama dan memahami dinamika organisasi.
Ketua OSIS SMPN 1 Ciamis periode 2025–2026, Aini Krisna Aji Utami, mengatakan peserta LDKS berasal dari berbagai unsur siswa dengan tujuan mempersiapkan regenerasi organisasi di lingkungan sekolah.
“LDKS sendiri merupakan latihan keterampilan dasar siswa. Di sini kami mempelajari kepemimpinan dan organisasi sekaligus mencari calon-calon penerus agar organisasi di SMPN 1 Ciamis bisa terus terorganisir,” kata Aini.
Ia menjelaskan, kegiatan berlangsung selama dua hari. Hari pertama dilaksanakan secara penuh dengan agenda menginap, sementara kegiatan hari kedua berlangsung hingga setengah hari.
Bagi peserta, LDKS juga menjadi kesempatan untuk mengenali kemampuan dan potensi yang ada dalam diri masing-masing. Proses tersebut membuat kegiatan tidak berhenti pada persoalan siapa yang nantinya menjadi pengurus, tetapi bagaimana setiap siswa mampu berkembang sesuai potensinya.
Dinda Kirana menilai LDKS memberikan pengalaman penting bagi siswa dalam memahami organisasi sekaligus mengenali kemampuan diri.
“Selain mencari bibit unggul untuk kepengurusan berikutnya, kami juga bisa melihat potensi dalam diri masing-masing. Jadi, proses ini bukan hanya tentang siapa yang terpilih, tetapi bisa menjadi pengembangan diri bagi setiap peserta,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 1 Ciamis, H. Asep Surur Mulyadi, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, sekolah memberikan dukungan karena LDKS merupakan bagian dari proses pembelajaran siswa dalam berorganisasi.
“LDKS merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan oleh siswa dan siswi. Ini menjadi kebutuhan sekaligus pembelajaran bagi mereka dalam memahami bagaimana berorganisasi,” ujar Asep.
Ia menilai kegiatan tersebut juga menjadi bagian penting dalam menyiapkan regenerasi, terutama ketika siswa kelas IX nantinya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan demikian, keberlangsungan organisasi siswa membutuhkan generasi penerus yang memahami tugas, tanggung jawab dan nilai-nilai organisasi.
Asep berharap LDKS dapat melahirkan siswa yang tidak hanya mampu menjalankan roda organisasi, tetapi juga menjadi teladan bagi lingkungan sekolah.
“Kami berharap dari kegiatan ini lahir regenerasi penerus yang mampu melaksanakan tugas dalam berorganisasi, menjadi uswah bagi siswa lainnya, serta dapat membantu pihak sekolah dalam meningkatkan mutu siswa dan siswi di SMPN 1 Ciamis,” katanya.
Lebih dari sekadar agenda tahunan, LDKS menjadi ruang pendidikan karakter yang mempertemukan teori kepemimpinan dengan pengalaman langsung. Siswa belajar bahwa menjadi pemimpin bukan semata-mata memiliki posisi atau nama dalam struktur organisasi, melainkan kesiapan untuk bertanggung jawab dan memberi manfaat bagi lingkungan.
Dari proses inilah regenerasi kepemimpinan diharapkan tumbuh secara sehat. Sebab, ketika sekolah mampu menanamkan nilai kepemimpinan sejak dini, estafet organisasi bukan hanya berpindah tangan, tetapi juga membawa semangat, karakter dan nilai positif kepada generasi berikutnya.***
Jurnalis: FAI