Resensi buku : “Aku dan Setengah Kematianku”

Oleh : Amang Mawardi/ sastrawan/budayawan

Ada sekian dokter yang dikenal sebagai penulis. Di Jakarta, antara lain : dr. Kartono Mohamad, dr. Hendrawan Nadesul, Prof. Dr. dr. Anies, M.Kes., PKK., dr. Cahyadi Takariawan, dr. Andreas Kurniawan, dr. Dito Anurogo, dan masih banyak lagi.

Di Surabaya pun lumayan banyak,
salah satu yang produktif menulis, baik di media massa maupun menulis sekian buku : Kol. Laut (K) Dr. dr. Hisnindarsyah, SE., M.Kes., M.H.

Salah satu buku karyanya yang judulnya menggelitik : “Aku dan Setengah Kematianku”.

Buku ini bunga rampai dari tulisan-tulisan dokter yang akrab dengan seniman, yang tersebar di berbagai media.

Salah satunya yang berjudul sebagaimana di atas yang lantas dijadikan judul buku tersebut.

Di buku ini tercatat 27 judul, dengan penamaan judul-judul yang rerata puitis, misalnya : Membaca Api Sejarah atau Abu Sejarah? Pilihan Membaca Masa Depan; Amman yang Aman; Bencana Alam atau Bahasa Alam?; Lukisan Pria Bertopi Fez dan Masjid Hagia Sophia; dan sejumlah judul lain yang tak kalah menggelitik.

Namun, ada tulisan yang judulnya sebagaimana sering kita dengar untuk pengingat kehidupan, yaitu : “Gusti Alloh Mboten Sare” (Tuhan Tidak Tidur), ditulis secara tiga seri.

Menarik membaca yang ditulis dalam salah satu alinea pada pengantarnya : Urip Iki Urup. Hidup Itu Penuh Cahaya. Padamlah hidup kita, jika mati “nur” yang kita punya. Maka jangan pernah matikan Nur Illahi yang ada dalam hidup kita.

Sedangkan dalam tulisan berjudul ‘Aku dan Setengah Kematianku’ tersebut, Dokter Hisnindarsyah menyajikan kata-kata menarik sebelum menutup tulisannya itu : Dalam pengalaman ruhani yang luar biasa, aku menjadi tahu bahwa esensi ibadah ternyata adalah batin kita, hati kita. Bukan semata raga kita. Bisa jadi raga kita bersolat, berpuasa. Tapi hati dan pikiran kita tidak pada Alloh Swt., namun pada dunia.

Alhasil buku yang diterbitkan oleh Holistic Institute dengan ketebalan xviii + 152 halaman, yang diberi pengantar oleh Romo Guru Siddi Miftahul Luthfi Muhammad ini, tertangkap diksi menarik :

Melalui buku yang disusunnya ini, ia hendak menyapa sekaligus memberitahu jika dirinya manusia biasa — meski gelar sarjananya berderet-deret di depan dan di belakang namanya.

Baginya menuntut ilmu adalah wajib. Adapun mengamalkan ilmunya sangat-sangat wajib. Ia bersyukur sudah dikaruniai Gusti Alloh kehidupan yang baik — pada akhirnya bukan lagi harta benda dan pangkat sebagaimana tujuan hidupnya semula.

Buku ini juga memberikan pesan, bahwa setiap manusia dikaruniai takdir yang beragam, sudah barang tentu dengan sunatulloh yang beragam pula.

#KeteranganFoto Salah satu buku karya Kol. Laut Dr. dr. Hisnindarsyah, SE., M.Kes., M.H. : “Aku dan Setengah Kematianku”. (Foto : AM).

Related posts