Meminimalisasi ketidaknyamanan awal terapi oksigen hiperbarik

Oleh : Dr.dr.Hisnindarsyah Sp.KL(K), M.Kes MH C.FEM Supervisor Konsultan terapi hiperbarik RS Krakatau Medika Cilegon

 

Inti terapi oksigen hiperbarik ada di pengaturan kadar oksigen dan jumlah tekanan yang diberikan.

Seminimal apapun tekanan yang diberikan, maka jaringan utamanya tingkat seluler akan memberi respon. Dan selalu respon adaptasi yang dilakukan oleh organ pada setiap perubahan tekanan, seberapun kadarnya. Termasuk walau hanya 0,5 ata saja misalnya. Terutama di awal pemberian tekanan.

Hal ini sesuai dengan teori Prof Heyle tentang konsep Stress, Strain, Adaptasi/ Maladaptasi pada kondisi perubahan tekanan lingkungan.

Prinsip perubahan tekanan harus Do not harm. Tidak meninumbulkan cedera. Sehingga peningkatan tekanan harus perlahan. Dilarang keras , langsung memutar valve pressure untuk meningkatkan tekanan dengan cepat. Sangat Berbahaya. Lakukan dgn smoth dan pelan. Prinsipnya adalah setiap menit setiap meter. Sehingga untuk mencapai kedalam 10 meter diperlukan waktu 10-15 menit . Sehingga untuk mencapai 2,4 ATA butuh waktu 15- 20 menit. Menyesuaikan kondisi penyelam atau pasien jika dalam ruangan chamber hiperbarik.

Demikian pula kadar oksigen yang masuk pun juga harus sesuai dengan kebutuhan. Tidak semua harus 100 persen. Karena kebutuhan normal kita ditekanan atmosfir normal hanya 21 persen. Sehingga jumlah dan cara pemberian oksigen akan berbeda pada tiap kasus yang di alami pasien. Namun sebagai broad spektrum HBOT adalah Tabel Kidwall, 2,4 ATA, 2 jam , 10 x berturut turut atau 1 seri. Dilanjutkan dengan evaluasi progress terapi.

Prinsip pemberian terapi HBOT adalah menurut umur, jenis penyakit dan severity / derajat keparahan pasien. Sehingga jumlah tekanan dan oksigen yang diberikan pun, berbeda pula. Namun secara umum , prinsip yang digunakan adalah tabel kidwall pada penyakit klinis , tabel 5 dan tabel 6/ 6A pada penyakit penyelaman.

Oleh karena itu setiap meter peningkatan tekanan atau penurunan kedalaman, akan memberi efek stress pada organ tubuh( strain) . Utamanya adalah rasa tidak nyaman seperti sakit pada telinga, sulit bernafas hingga sesak nafas, dan nyeri hidung, wajah hingga nyeri kepala. Walau tiga hal terakhir sangat jarang, tapi ditemukan beberapa kejadian tentang hal ini terutama saat mulai penurunan kedalaman di satu, tiga dan lima meter yang sering menimbulkan kepanikan pada pasien.

Inti utama yang mesti diwaspadainya adalah perubahan tekanan atau penurunan kedalaman di satu sampai tiga meter yang sering menimbulkan rasa tidak nyaman.

Sehingga peranan dokter dan perawat yang paham tentang proses adaptasi pada perubahan atau peningkatan tekanan, menjadi sangat penting.

Terutama untuk melakukan pengecekan kesehatan penyelam atau pasien yang akan terapi HBOT di awal akan terapi. Apakah kondisi telinga( adakah ruptur atau robek gendang telinga?, adakah kotoran telinga atau cerumen obsturans, adakah Otitis media akut purulent dan lain lain yang menjadi kontra indikasi relatif pada hbot), pengecekan hidung ( adakah oedem, flu, deviasi septum ), riwayat sinusitis dan thorak foto untuk memastikan tidak ada Pneumothorak sebagai kontra indikasi absolut pada terapi oksigen hiperbarik, serta penyakit yang ada di jantung dan paru merupakan hal penting yang harus diperhatikan dokter/ paramedis pada penyelam atau pasien HBOT.

Termasuk juga memberi rasa nyaman, tenang pada pasien selama terapi oksigen hiperbarik / HBOT dilaksanakan.

Tehnik equalisasi dan peringatan untuk tidak membawa benda yang berbahaya juga harus diulang ulang oleh dokter dan perawat pada pasien yang akan masuk chamber.
Dan siapapun itu yang berstatus pasien, walau dia seorang ahli hiperbarik sekalipun, harus taat dan patuh terhadap SOP ini. Untuk Safety Patient atau keselamatan pasien.

Terakhir, rasa tidak nyaman pada telinga, hidung , kepala dan bagian tubuh lainnya , bervariasi saat dan waktu munculnya. Tidak harus hari pertama. Dan itu bagian dari proses adaptasi tubuh untuk menyembuhkan dan memperbaiki dirinya sendiri yang dibantu oleh terapi HBOT.

*) Dokter Spesialis Kelautan Konsultan, Supervisor RS Krakatau Medika Cilegon

Related posts