Kolonel Laut(K) Dr.dr.Hisnindarsyah SpKL. KT(K), SE M.Kes MH., CFEM FIHFAA.,FISQua., FRSPH/ DANSATGAS PASIFIC PATNERSHIPS 2026.
Disaster manajement atau Manajemen bencana di Indonesia mengacu pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dengan mengfungsikan BNPB atau (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sebagai koordinator nasional dan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana daerah) sebagai pelaksana di daerah.
Siklus penanggulangan bencana meliputi Mitigasi dan Pencegahan, kemudian Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat serta terakhir Rehabilitasi dan Rekonstruksi.
Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem. Secara posisi geografis Sibolga dan Tapanuli Tengah yang berada di pesisir barat Sumatera dan dekat zona subduksi Mentawai menjadikannya salah satu daerah yang memerlukan kesiapsiagaan bencana yang tinggi.
Karena terkait sistem tanggap darurat tersebut maka dalam penentuan lokasi kegiatan Pacific Partnership, faktor kerawanan bencana menjadi salah satu pertimbangan utama.
Dalam pelaksanaannya, manajemen bencana di Sibolga dan Tapanuli Tengah melibatkan berbagai unsur yaitu BPBD Kota Sibolga, BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah, TNI/Polri, Basarnas, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Pemerintah Daerah dan Organisasi kemanusiaan dan masyarakat.
Beberapa waktu yang lalu pengalaman penanganan banjir dan longsor besar yang terjadi pada akhir 2025 menunjukkan pentingnya koordinasi lintas sektor, distribusi logistik, evakuasi masyarakat, komunikasi darurat, dan pemulihan pascabencana sehingga thema yang dibawakan pada Latma Pacific Partnership 2026 adalah “Strengthening Partnership, Collaboration, and Interoperability for Crisis Response”.
Tema tersebut sangat erat kaitannya dengan konsep manajemen bencana modern yang menekankan Kerja sama antarinstansi, Interoperabilitas sistem, Respon cepat terhadap krisis dan Penguatan kapasitas daerah.
Kegiatan Pacific Patnership 2026 di Sibolga dan Tapanuli Tengah dilaksanakan pada tanggal 21 -31 Juli 2026 ini diikuti oleh USA sebagai negara mitra utama dan 4( empat) negara mitra pendukung yaitu Jerman, Kanada, Australia dan Singapura.
Adapun berbagai kegiatan yang dilaksanakan pada Pasific Patnership 2026 ini adalah pelatihan kesiapsiagaan rumah sakit menghadapi bencana, latihan penanggulangan bencana lintas instansi, Table Top Exercise (TTX), Workshop dan seminar kebencanaan, Evaluasi SOP penanggulangan bencana, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan humanitarian Assistance and Disaster Response (HA/DR). Selain itu dilaksanakan pula kegiatan non kebencanaan seperti Community Relationships berupa kunjungan keberbagai sekolah yang dikemas dengan acara sosialisasi dan edukasi kesehatan jiwa, gigi, mata, THT dan gizi. Termasuk acara olahraga bersama, pertukaran budaya dan musik. Juga dilakukan kegiatan pembangunan dan renovasi sekolah, termasuk penanaman Mangrove.
Secara umum, Manfaat Pacific Partnership bagi Sistem Manajemen Bencana di Sibolga yaitu Pertama adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaan daerah melalui latihan bersama, sehingga aparat daerah memperoleh pengalaman menghadapi skenario gempa bumi besar, tsunami, Banjir bandang, longsor dan wabah penyakit pascabencana.
Kedua adalah meningkatkan Interoperabilitas yaitu meningkatkan kemampuan berbagai instansi bekerja menggunakan prosedur yang sama, dimana dalam latihan ini melibatkan semua unsur yaitu TNI, US Navy, BPBD, Dinas Kesehatan, Rumah sakit, Basarnas, Pemerintah daerah. sehingga diharapkan saat terjadi bencana nyata, koordinasi menjadi lebih cepat dan efektif.
Kemudian yang ketiga Pacific Partnership melatih penerapan penguatan sistem komando sehingga dengan konsep akan sejalan dengan fungsi Posko Penanggulangan Bencana di Indonesia.
Kemudian yang keempat peningkatan kapasitas Rumah Sakit, dimana rumah sakit dan puskesmas dilatih berbagai macam latihan.
Yang terakhir kelima adalah penguatan Hubungan atau koordinasi Sipil-Militer seperti kita ketahui bersama bencana besar tidak dapat ditangani satu instansi saja, melalui Pacific Partnership 2026 dibangun hubungan kerja yang lebih baik antara pemerintah daerah, TNI, Mitra internasional, Organisasi kemanusiaan, dan masyarakat.
Sehingga sebagai kesimpulan adalah bahwa pelaksanaan manajemen bencana di Sibolga merupakan bagian dari sistem nasional penanggulangan bencana yang berfokus pada mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan.
Mengingat Sibolga merupakan wilayah rawan gempa, tsunami, banjir, dan longsor, maka keberadaan Latma Pacific Partnership 2026 menjadi sangat relevan karena berfungsi sebagai sarana peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan koordinasi lintas instansi, pengujian prosedur tanggap darurat, serta peningkatan interoperabilitas antara TNI, pemerintah daerah, dan mitra internasional.
Dengan demikian, Pacific Partnership 2026 tidak hanya merupakan latihan militer dan kemanusiaan, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan bencana masyarakat Sibolga dan Tapanuli Tengah.
*) Dansatgas Pasific Patnership 2026/ Indonesia Mission Commader PP 2026 Sibolga Tapteng