Dispen Kormar TNI AL (Pasuruan) PW : Komando Latihan Marinir, Brigjen TNI (Mar) Agus Dwi Laksana Putra, secara resmi menutup kegiatan Briefing Latihan Operasi Pengamanan Wilayah Perbatasan (Latopswiltas) Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Lapangan Apel Ksatrian FF Tanjung, Puslatpurmar 3 Grati, Kamis (14/05/2026).

Kegiatan briefing tersebut merupakan bagian penting dalam rangka meningkatkan kesiapan operasional serta profesionalisme prajurit Korps Marinir dalam menghadapi berbagai dinamika tugas pengamanan wilayah perbatasan dan daerah strategis nasional. Melalui latihan ini, prajurit dituntut memiliki kemampuan taktis, teknis, serta pemahaman teritorial guna mendukung pelaksanaan tugas operasi di lapangan secara optimal.

Dalam amanatnya, Dankolatmar menegaskan bahwa Latopswiltas TA 2026 dirancang untuk membentuk prajurit yang adaptif, responsif, dan memiliki kemampuan interoperabilitas yang baik dalam menghadapi berbagai ancaman maupun potensi gangguan keamanan di wilayah perbatasan.

“Berbagai materi strategis telah dilatihkan mulai dari penanganan keimigrasian, pencegahan illegal logging, penanganan peredaran narkoba, pembinaan teritorial wilayah, pemeriksaan kapal, hingga pertahanan pos. Seluruh materi tersebut merupakan bagian penting dalam membentuk prajurit yang profesional dan siap operasional,” tegas Dankolatmar.

Selain pembekalan teori dan briefing teknis, latihan juga diimplementasikan melalui aplikasi lapangan di Rahlat Puslatpurmar 3 Grati guna menguji kemampuan prajurit dalam menerapkan prosedur operasi sesuai kondisi nyata di lapangan. Dengan adanya simulasi dan aplikasi latihan tersebut, diharapkan setiap unsur yang terlibat mampu meningkatkan kemampuan koordinasi, kecepatan pengambilan keputusan, serta efektivitas tindakan dalam mendukung keberhasilan operasi.
Dankolatmar juga menekankan pentingnya menjaga disiplin, loyalitas, dan semangat juang selama pelaksanaan latihan maupun dalam penugasan yang sesungguhnya. Menurutnya, tantangan tugas pengamanan wilayah perbatasan ke depan akan semakin kompleks sehingga dibutuhkan prajurit yang tidak hanya memiliki kemampuan tempur, tetapi juga memahami aspek sosial, hukum, dan teritorial.