AS dan Israel itu sama. Negeri AS dibangun dari perampasan tanah orang-orang Indian. Suku Siox, Apache, Ogalalah dan ribuan suku Indian lain dibunuh. Disingkirkan. Dan film-film cowboy jadul Hollywood menggambarkan orang Indian sebagai bangsa barbar, perampok, penyerang keluarga kulit putih.
Padahal orang-orang Indian itu sedang memerangi pendatang yang seenaknya menduduki tanah mereka.
Israel juga dibangun di atas tanah orang Palestina. Orang-orang dari seluruh Eropa didatangkan. Diperbolehkan merampas tanah yang menjadi lahan hidup warga Palestina.
Rumah, tanah pertanian, tempat usaha yang selama ini milik warga Palestina diduduki begitu saja. Di buldoser. Dihancurkan. Untuk dibangun pemukiman baru Israel.
Ketika warga Palestina melawan karena hak hidupnya diduduki pendatang entah dari mana, mereka akan dituding teroris. Perampok. Kaum barbar. Persis dengan stempel yang dikenakan AS pada suku Indian.
Untuk menutupi kekejiannya itu, zionis memanipulasi doktrin kitab suci agar semua kebiadaban mereka mendapat pembenaran agama. Dan orang-orang polos mempercayai doktrin aneh itu.
Mereka percaya tuhan bersikap rasis : ada bangsa pilihan dan non-pilihan. Menilai manusia bukan karena perilakunya, tapi karena rasnya. Bahkan mereka percaya tuhan berperan sebagai makelar tanah.
Warga Palestina yang muslim, yang Yahudi, yang Kristen semuanya ingin diusir dari tanahnya. Diganti oleh orang yang kebanyakan didatangkan dari eropa, atas nama zionis Israel.
Sebetulnya sejarah yang mirip juga terjadi di Australia dan New Zealand. Di Australia orang kulit putih datang merampas tanah buku Aborigin. Di New Zealand korbannya adalah suku Maori.
Ratusan tahun dunia diam. Pendudukan seperti ini dianggap biasa. Bangsa yang maju, seperti berhak merampas hak hidup bangsa yang terbelakang.
Sampai PBB menerapkan batas-batas negara modern. Dan mengatur hukum internasional. Sebuah negara tidak berhak menyerang negara lain. Penyerangan tanpa sebab dianggap kejahatan sesuai hukum internasional.
Tapi bangsa yang pongah menganggap hukum internasional adalah tisu toilet. Puluhan resolusi PBB yang meminta Israel berhenti membunuhi warga sipil Palestina diabaikan.
Terakhir Israel dengan bangga membunuhi 60 ribu anak di Gaza. Seperti dulu AS dengan bangga membunuhi anak-anak Indian.
Trump bahkan terang-terangan tidak mengakui hukum internasional. Ia bisa bertindak semaunya sendiri. “Tidak ada hukum seperti itu. Ukuran hukum adalah moralitas saya sendiri, ” ujar Trump.
Kenapa mereka sepongah itu? Karena militernya kuat. Karena sistem ekonominya mencengkram dunia. Negara-negara lain memilih diam, atau bahkan bermesraan dengan mereka ketimbang jadi sasaran keserakahan yang membabi buta.
Negara-negara teluk memilih jalan bertekuk lutut seperti ini dan belakangan Indonesia mau ikut-ikutan. Harapan mereka hanya satu : kekuasaannya tidak diganggu dan mereka rela membayar biaya mahal untuk tujuan itu.
Tapi ada satu duri bagi AS dan Israel untuk berbuat semaunya di dunia. Duri itu bernama Iran. Iran lebih memilih melawan ketimbang jadi kacung penjajah.
Suku Indian boleh dimusnahkan AS. Suku Aborigin dan Maori bisa disingkirkan Australia dan New Zealand.
Tapi saat Israel mau bertindak sama pada rakyat Palestina, gak segampang itu ferguso. Sejak berdirinya Republik Islam Iran tahun 1979, Iran sudah mengumandangkan akan membantu rakyat Palestina.
Imam Khomeini, bapak revolusi Islam Iran, sejak 1980 sudah memgumandangkan hari Al Quds. Dilaksanakan setiap Jumat terakhir Ramadhan. Seruannya : membebaskan Palestina dari penjajahan.
Bukan hanya karena alasan agama. Bukan karena suku Arab. Karena memang harus ada yang menyetop keberingasan AS dan Israel sebagai musuh kemanusiaan.
Iran, di tengah keterbatasannya, sedang memilih peran sejarah itu. Kita semua menjadi saksi.
Opini : Hisnindarsyah
Portland Internasional Airport, Oregon USA 04 April 2026 jam 06.40