Dispen Kormar, TNI Angkatan Laut (Jakarta). Guna memelihara kesiapan fisik dan kemampuan teknis dalam situasi darurat, prajurit Batalyon Kesehatan 1 Marinir (Yonkes 1 Mar) melaksanakan Latihan Perorangan Kesenjataan (LPK) dengan fokus materi Penanganan Fraktur (Patah Tulang) yang digelar di Yonkes 1 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (04/03/2026).
Kegiatan tersebut bertujuan untuk memastikan setiap prajurit Yonkes 1 Marinir memiliki respon cepat dan akurasi tinggi saat menangani cedera di medan laga. Dalam latihan ini, para prajurit diskenariokan menghadapi korban dengan berbagai jenis patah tulang, mulai dari fraktur tertutup hingga fraktur terbuka yang membutuhkan penanganan khusus.
Menggunakan peralatan bidai dan pembalutan standar tempur, setiap prajurit diuji ketangkasannya dalam melakukan stabilisasi korban agar tidak terjadi cedera lanjutan (trauma sekunder) saat proses evakuasi.
Poin utama latihan diantaranya, menentukan jenis fraktur di bawah tekanan waktu, teknik pemasangan bidai yang benar untuk mencegah pergeseran tulang dan memastikan korban aman untuk dipindahkan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Pelaksanaan jalannya latihan ditinjau langsung oleh Perwira Seksi Operasi (Pasiops) Yonkes 1 Marinir Kapten Laut (K) dr. Andrey Asmaraman Anapitu yang menyampaikan pesan penting kepada seluruh prajurit yang melaksanakan latihan bahwa kemampuan menangani fraktur bukan sekadar teori, melainkan nyawa dari setiap operasi penyelamatan.
”Setiap prajurit Yonkes harus menjadi tumpuan harapan bagi rekan-rekannya di garis depan. Jangan pernah ragu dalam bertindak, namun tetap harus sesuai prosedur medis. Ketelitian kalian dalam melakukan pembidaian dan stabilisasi menentukan seberapa cepat seorang prajurit bisa kembali pulih dan kembali ke kesatuan,” tegas Pasiops dalam arahannya.
Latihan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga kesiapan operasional satuan, sehingga kapanpun negara memanggil untuk tugas operasi militer perang (OMP) maupun operasi militer selain perang (OMSP).