SBB PW Suasana haru dan kecewa terpancar dari raut wajah Humas PT Spice Island Maluku (PT SIM) yang juga merupakan salah satu tokoh adat Negeri Kawa, Bapak Anwar Latumakulita. Saat ditemui di kediamannya di Dusun Waitoso, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB),30/10/2025.
ia menyampaikan kekecewaannya terhadap surat perjanjian yang dikeluarkan oleh Bupati SBB, Asri Arman, terkait dengan rencana beroperasinya kembali PT SIM.
Menurut Anwar, isi dari surat perjanjian (PERNYATAAN) tersebut dinilai sangat memberatkan pihak pekerja. “Kami sempat menangis bahagia saat mendengar kabar bahwa perusahaan akan dibuka kembali, tapi kini justru menangis sedih setelah membaca isi perjanjian itu,” ungkapnya dengan kecewa.
Ia menambahkan bahwa sebelumnya, pada aksi damai di Kantor Bupati SBB tanggal 27 Oktober 2025 lalu, Bupati sempat berjanji akan mengabulkan tuntutan para karyawan agar PT SIM dapat kembali beroperasi. Namun, janji itu berubah menjadi kekecewaan setelah muncul perjanjian yang dianggap tidak masuk akal.
Anwar menambahkan; Dalam isi perjanjian tersebut disebutkan bahwa apabila setelah pencabutan surat penghentian aktivitas PT SIM di kemudian hari terjadi gangguan, kerusuhan, konflik sosial, atau peristiwa hukum lain yang merugikan pihak lain, maka seluruh tanggung jawab akan dibebankan kepada pihak pekerja tanpa melibatkan Pemerintah Kabupaten SBB maupun aparat penegak hukum (APH).
“Ini sangat aneh dan tidak masuk akal. Kami bingung, ini negara hukum atau bukan? Kok bisa bupati membuat surat yang melarang aparat penegak hukum untuk terlibat menjaga keamanan? Kalau bicara masyarakat, kami juga bagian dari masyarakat. Kenapa justru kami seolah tidak dilindungi?” ujar Anwar dengan kecewa.
Ia menilai bahwa keputusan tersebut menunjukkan seolah-olah Pemerintah Daerah tidak lagi berpihak pada masyarakat kecil, khususnya para pekerja yang selama ini menggantungkan hidupnya pada perusahaan tersebut.
“Kalau dilihat dari isinya, kami yakin, ini bukan pemikiran dari seorang bupati,di duga kemungkinan ada faktor lain. juga tidak mungkin bupati tidak menginginkan PT SIM beroperasi lagi, apalagi sampai harus mengorbankan ribuan tenaga kerja demi kepentingan segelintir orang,” ujar anwar
Anwar berharap agar Bupati Asri Arman dapat meninjau kembali keputusan tersebut dan mengedepankan kepentingan bersama antara pemerintah, masyarakat, dan perusahaan.
“Kami hanya ingin bekerja dan mencari nafkah dengan tenang. Jangan karena kepentingan politik atau kelompok tertentu, rakyat kecil harus menjadi korban,” tutupnya dengan suara bergetar menahan sedih. @dy