Satgas Yonif RK 732/Banau Lestarikan Belut Morea

Ambon, (15/06) – PW: “Dimana Bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Istilah tersebut yang menjadi pedoman dalam setiap pelaksanaan tugas Satgas Pamrahwan Maluku Yonif Raider Khusus 732/Banau. Selain menjaga stabilitas keamanan, Satgas Yonif Rk 732/Banau gencar mengenalkan adat istiadat dan budaya Maluku serta melestarikannya. Seperti yang dillakukan oleh Pos 5 SSK 1 (Pos Waai).

Anggota pos bersama Pemuda Pemuda Desa Waai setiap bulan membersihkan cagar budaya kolam Belut Morea yang berada di Desa Waai (Kolam Waiselaka), Kec Salahutu, Kab Malteng. Masyarakat setempat pun menjaga dengan baik kolam tersebut. Ada kabar yang beredar kalau air di sana keramat dan Belut Morea sendiri dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, hingga kini masih menjadi mitos.

Belut Morea adalah belut raksasa yang merupakan hewan endemik dari Tanah Maluku artinya hewan ini tidak akan ditemukan didaerah lain. Hewan ini diberi gelar “Raksasa” karena ukurannya yang tidak seperti belut-belut pada umumnya. Belut ini bisa tumbuh hingga panjang 1-1,5 meter dan beratnya bisa mencapai 10-30 Kg. Belut Morea ukurannya jauh lebih besar dibandingkan dengan belut biasa. Panjangnya dapat mencapai 1 meter lebih. Dalam bahasa setempat, morea artinya belut.

Belut raksasa ini tidak dijadikan bahan makanan. Belut Morea dianggap sebagai belut keramat oleh penduduk setempat. Belut ini dipelihara dengan baik dan diberi makan setiap hari. Banyak pengunjung yang datang untuk melihat hewan ini sekaligus memberi makan berupa telur rebus yang dapat dibeli dari warga.

Belut Morea adalah suatu mahluk keramat yang begitu dijaga keberadaannya. Masyarakat Desa Waai tidak akan pernah memakan Morea meskipun mereka kehabisan bahan makanan. Kalau seseorang kedapatan mengambil Morea dari tempat ini maka orang tersebut akan dicambuk dan diminta untuk mengembalikannya. Kalau Belut tersebut sudah terlanjur mati, maka orang tersebut akan dicambuk dan harus menggantinya dengan belut Morea juga. Entah bagaimana caranya orang tersebut harus mendapatkan Morea hidup sebagai gantinya.

Adapun sejarahnya, pada zaman dulu penduduk dari gunung ingin pindah ke pinggiran pantai. Kebutuhan hidup di sana dinilai lebih banyak, seperti makanan dan lain-lainnya. Lalu, dilemparlah tombak dari jauh (yang diyakini berkekuatan gaib) dan tertancaplah di tanah yang sekarang tepat di pinggiran kolam Morea tersebut. Dari situ, keluarlah air dan ikan-ikan serta Belut Morea. Pertanda ada mahluk hidup di sana dan bisa menjadi tempat tinggal. Tapi tentu, mahluk-mahluk di dalam airnya termasuk Morea dilarang untuk dibunuh.

Total Views: 1238 ,

Related posts

Leave a Comment