Managemen regulasi emosi Dr Syahpri: terimakasih teladannya

Hisnindarsyah

Saya salut.
Melihat managemen kendali emosi dan stress yang dilakukan dokter luarbiasa itu. Namanya Syahpri Putra. Dokter spesialis yg tidak biasabiasa saja . Karena selain seorang internis, Dr Syaphri adalah Konsultan Ginjal dan Hipertensi. K-GH istilah nomenklatur ilmiahnya. Juga ada gelar Fellow : FINASIM. Tanda Dokter tersebut diakui sebagai internist dengan kompetensi layanan yang diakui Peehimpunan ahli penyakit dalam.

Jadi andai dia ingin pongah dan arogan pada siapapun, oh sangat bisa. Karena secara akademis dan kompetensi sangat mumpuni. Dan tentu kalau bicara finansial, yah sudahlah, jangan dibahas. Karena saya pribadi sangat paham.

Tapi saksikan di video yang viral itu.
Bagaimana pongahnya keluarga pasien berkatakata di hadapannya. Di salah satu ruang yang nampak seperti ruang VIP RSUD Sekayu Muara Banyuasin , dokter Syahpri Putra harus menghadapi keluarga pasien yang marah. Kata-kata kasar, pongah, arogan disertai recording kamera dari keluarga pasien terus mencerca. Dokter Syahpri hanya tenang ,diam dan memberi penjelasan yang sangat prosedural. Dan itu benar !

Permintaan yang bertentangan dengan prosedur kerja kerap dilontarkan. Tak digubris. Hingga muncul kata “Buka maskernya!”. Sembari salah satu keluarga menarik masker dokter. Di depan pasien yang diduga terdiagnosis Tuberculosis!!!.
Dan lagilagi, dokter syahpri tetap menjelaskan, dengan runut dan tenang.

Ini dahsyat.

Sang dokter tak terpancing, dia tetap stabil.
Ini contoh yang tidak semua tenaga medis punya kemampuannya ini dalam pressure atau tekanan.

Dalam dunia kesehatan mental, sikap seperti ini disebut regulasi emosi. Saya yakin, dr Syahpri pun pasti bukan sekedar kesal, tapi marah. Menghadapi orang sok tau yang merasa terkenal melalui katakata ” kamu ga kenal saya”,
ya…emang siapa elu cuy !!!

Kemampuan merespon dengan kepala dingin , fokus dan sadar penuh saat tekanan hebat, ini sungguh luarbiasa.
Inilah pilihan kekuatan tenang dalam diam ketika pilihan berkatakeras bisa dilakukan.
Inilah sejatinya kekuatan kasih dan cinta yang sekarang mulai sirna

Apa yang dilakukan dr. Syahpri adalah contoh bahwa kombinaasi antara empati, profesionalisme yang proporsional , berjalan beriringan.
Sang dokter berhasil menunjukkan bahwa adalah pelayanan atau services bukanlah sekedar merawat pasien, tapi juga diri sendiri.

Sebagai sejawat, kami merasa mendapat percontohan perilaku yang luarbiasa dari seorang Dr Syahpri SpPD K-GH FINASIM. Meski kejadian ini tidak bisa didiamkan.

Yakinlah dunia medis Indonesia sangat solid, kompak, kuat . Bersatu untuk melayani dengan hati.
Dan kami berharap , masyarakat pun berperan untuk memastikan sikap Dr Syahpri , tidak hanya diapresiasi, tapi juga dilindungi.

Rumah sakit perlu memastikan keamanan dan pendampingan psikologis bagi tenaga medis.

Pemerintah melalui MDP dan Organisai profesi Seperti IDI terus mengawal perlindungan hukum.
Alhamdulillah MDP, Perdahukki, IDI banyuasin telah langsung turun membantu dalam kasus ini dari segi hukum

Dan yang terpenting adalah Pemerintah dan penegak hukum harus menegaskan bahwa intimidasi terhadap tenaga kesehatan adalah tindakan melanggar hukum.

Kepada teman sejawat hebat dr. Syahpri Putra — terima kasih sudah menjadi teladan kebesaran jiwa menjaga marwah profesi : Dokter Indonesia .🫶🫰❤️

Salam Sejawat tenang dan terang 15.08.2025 ( Ketua Kolegium Kedokteran Kelautan Indonesia/ Dosen, Praktisi, Kolumnis)

Related posts