Taktik Persia Kuno vs Teknologi Supermodern Mahal

oleh: Hisnindarsyah

Saat ini, seluruh mata dunia menyaksikan pergulatan yang lebih menegangkan daripada pertandingan FIFA World Cup, yaitu perang yang digadang-gadang sebagai perang dunia ketiga. Tampak satu negara yang memikat perhatian, negara yang diembargo puluhan tahun, dikucilkan dari segala arah, namun bertahan sendirian melawan persekutuan negara Adidaya, Israel yang didukung Amerika Serikat & NATO.

Ini bukan perang biasa. Ini semacam “realita nge-prank logika”.

Israel datang dengan teknologi mahal, sistem pertahanan berlapis, dan rasa percaya diri setinggi langit. Tapi Iran? Datang bawa sesuatu yang lebih “nggak masuk akal”. Rudal murah, drone sederhana dan strategi yang sabar tapi nyakitin ke lapisan ati paling dalem.

Operasi “Janji Sejujurnya-4” jadi panggungnya. Dari putaran ke-47 sampai ke-52, satu per satu serangan nembus pertahanan yang katanya “tak tertembus”. Bukan sekali. Tapi berkali-kali. Kayak diingatkan kalau yang mahal belum tentu kebal.

Sirene di Tel Aviv, Haifa, sampai Yerusalem sekarang bukan sekadar alarm darurat. Tetapi soundtrack harian. Orang kerja sambil was-was, ekonomi ngos-ngosan, hidup kayak di-pause tapi nggak pernah benar-benar berhenti. Kayak lagu Utopia : Antara ada dan tiada.

Lalu 9 Maret, dini hari game itu berubah.

Sembilan rudal Iran jatuh tepat di Orot Rabin, pembangkit listrik terbesar Israel yang nyuplai sekitar 19% listrik nasional. Sekali hantam, langsung bikin Israel gelap. Rumah sakit goyah, komunikasi putus, kota modern langsung downgrade ke mode darurat.

Masalahnya? Sistem mereka rapuh. Cuma lima pembangkit utama untuk satu negara. Sementara itu 75% air minum bergantung pada pabrik desalinasi. Jadi, begitu listrik mati? Ya, air ikut hilang. Serangan ke Pabrik desalinasi Sorek dan kilang Haifa bikin krisis Israel makin paket lengkap. Listrik ngedrop, air seret, bahan bakar terjepit. Akibat 20% pasokan air terganggu, Tel Aviv sampai harus jatah air.

Arena pertempuran belum selesai.

Setelah lebih dari setengah pertahanan udara terkikis, target berubah. Bukan lagi cuma infrastruktur, tapi juga orangnya. Selama ini Iran hati-hati dan menjaga agar tidak ada korban jiwa. Tetapi kematian para Pimpinan dan warga sipil membuat Iran berubah arah. Rumah pejabat, komandan, intelijen Israel pun kini dibidik. Ketakutan militer menjadi personal. Warga utara mulai turun ke selatan. 14 Maret 2026, Israel mengumumkan status darurat perang skala penuh.

Dan ini bagian paling “kejam tapi cerdas”:

Iran main cerdik di biaya. Mereka kirim rudal dan drone murah, bisa produksi lebih dari 100 per bulan. Israel? Harus jawab pakai Arrow-3 (USD 3–5 juta per tembakan) atau THAAD (bisa USD 13 juta). Ibaratnya, Iran nyerang pakai ketapel, lalu Israel pakai emas batangan.

Capek? Jelas. Mahal? Banget.

Kalau mau jujur, ini kayak deja vu sejarah.

QS. Al-Fil pernah cerita tentang pasukan Abrahah dengan gajahnya yang besar, kuat, intimidating. Namun pasukan besar ini tumbang oleh burung Ababil yang cuma bawa batu kecil panas membara. Kecil, tapi banyak dan tepat. Sederhana, tapi konsisten.

Sekarang polanya mirip. Roket-roket “kecil” itu datang terus, tanpa drama, tanpa henti. Dan yang besar? Mulai goyah.

Dulu Israel dilihat tak tersentuh. Sekarang? Mulai kelihatan lelah.

Karena ternyata, dalam perang… bukan cuma soal siapa yang paling kuat.

Tapi siapa yang paling tekun bertahan.

Salam Akal Sehat , 26.03.2026

Related posts