Ciamis, Jabar – PW.Setelah merampungkan penyidikannya dalam kasus penjualan aset daerah, Tim Penyidik Kejaksaan Negeri Ciamis melakukan penyerahan tersangka dan barang bukti ke Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Ciamis (tahap II).
Pelimpahan tersebut langsung diterima oleh Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejari Ciamis yang bertindak selaku Penuntut Umum yang sebelumnya memimpin Penyidikan dalam perkara tersebut.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam tahap II setelah P-21 oleh JPU kemudian Penyidik Kejari Ciamis menyerahkan berkas perkara, barang bukti berikut 2 (dua) orang tersangka yang mana tersangka inisial AR selaku PNS dan tersangka inisial GS merupakan pihak swasta.
Kepala Kejaksaan Negeri Ciamis, Dra.Soimah, SH, MH. saat melakukan jumpa pers dikantor Kejari Ciamis, Senin (7/9/2023) menuturkan, bahwa perkara korupsi ini berupa penjualan aset milik Daerah Kabupaten Pangandaran Cq. SMPN 2 Parigi.
Untuk kronologisnya, awalnya di tahun 2019 Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangandaran yang menaungi Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kabupaten Pangandaran, terdapat pengadaan Peralatan Laboratorium Komputer yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) SMP melalui Aanggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pangandaran T.A 2019.
Kemudian di tahun 2020 kembali terdapat kegiatan pengadaan berupa Belanja Modal Peralatan dan Mesin, Pengadaan Komputer Unit Jaringan, perlengkapan Penunjang Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMP yang bersumber dari dana Bantuan Provinsi melalui APBD Kabupaten Pangandaran T.A 2020.
Setelah semua barang diterima oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangandaran kemudian disalurkan kepada sekolah – sekolah yang salah satunya adalah SMPN 2 Parigi tempat dimana tersangka AR bekerja selaku Guru.
Kejari Ciamis Dra.Soimah mengatakan.Modus sitersangka mereka melakukan penjualan dan membeli, dimana tersangka AR menjual barang-barang komputer milik SMPN 2 Parigi kepada tersangka GS dengan alasan sedang dilelang dan akan diganti dengan spek yang lebih bagus, sehingga tersangka GS atau sipembeli percaya dengan apa yang disampaikan oleh tersangka AR(Penjual) dan tetap saja GS membeli barang tersebut dikarenakan harga yang diberikan oleh tersangka AR sangat murah dan spesifikasi dari barang tersebut sangat bagus, dimana perbuatan itu dilakukan tidak hanya sekali namun dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan/pesanan dari tersangka GS. Setelah membeli barang-barang berupa komputer tersebut kemudian tersangka GS menjualnya kembali sehingga mempeoleh keuntungan.
“Penjualan barang milik negara dengan harga murah dan spek yang bagus dilakukan secara bertahap dan berulang oleh AR kepada GS,” ujarnya.
Menurut Kejari Ciamis, bahwa barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN/APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah merupakan barang atau asset milik negara, yang mana perlakuan terhadap barang milik negara atau daerah antara lain, dengan mengamankan dan memelihara barang milik Negara/Daerah yang berada dalam penguasaannya sebagaimana tercantum dalam Pasal 5 Ayat (2) huruf C Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.
Sehingga kata Kejari Ciamis, terhadap barang-barang tersebut apabila hilang akibat Perbuatan melawan Hukum baik karena kesengajaan atau kelalaian.
“Perbuatan yang melanggar Undang-Undang atau Hukum yang Tertulis termasuk dalam kerugian negara,” ujarnya.
Adapun perbuatan tersangka AR kata Kejari Ciamis, didalam menjual barang-barang milik SMPN 2 Parigi tersebut tidak sejalan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 2021 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.Dimana salah satu bunyi larangan PNS sebagaimana dalam Pasal 5 huruf F yaitu dilarang memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau meminjamkan barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah.
Selain itu kewajiban PNS sebagaimana Pasal 3 huruf d adalah menaati ketentuan perundang-undangan, namun perbuatannya justru telah melanggar ketentuan perundang – undangan dan telah mengakibatkan negara mengalami kerugian
Atas perbuatan tersangka dengan menjual barang – barang milik SMPN 2 Parigi untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain, negara telah mengalami kerugian.
Kerugian tetsebut telah dilakukan audit oleh Inspektorat Kabupaten Pangandaran, dengan hasil sebagaimana dituangkan dalam Laporan Hasil Penghitungan Kerugian Keuangan Negara (LHPKKN) atas dugaan Tindak Pidana Korupsi Penjualan Aset Barang Milik Daerah Pada SMPN 2 Parigi Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran Tahun Anggaran 2015 – 2020 dengan hasil total kerugian Keuangan Negara/Daerah pada SMP Negeri 2 Parigi Kecamatan Parigi sebesar Rp.237.070.460,58,-(dua ratus tiga puluh tujuh juta tujuh puluh ribu empat ratus enam puluh ribu koma lima puluh delapan rupiah).
Dijelaskan Dra Soimah.Masing-masing tersangka kita ajukan dalam berkas perkara terpisah (splitsing) dan segerah akan kita limpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi di Pengadilan Negeri Bandung untuk kemudian menunggu penetapan hari sidang dari majelis Hakim.
Atas perbuatan para tersangka kami sangkankan melanggar sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam ketentuan Pasal 2 Ayat (1) Juncto Pasal 18 Ayat (1) huruf b Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang – undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas UU No.31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
“Tersangak diancam dengan undang-undang RI No 20 Tahun 2021 tentang Perubahan atas UU No 31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi juncto pasal 55 ayat(1) ke 1 KHUP dengan Ancaman maksimal pasal 2 ayat 1 yakni empat tahun sampai 20 tahun kurungan penjara,” tegasnya.
Pantuan media saat jumpa pers, Kejari Ciamis Dra Soimah SH.,MH didampingi Kasi Intel Rismanto SH, MH dan Kasi Pidsus Inal Sainal SH.,MH, Kasi BB dan Kasi Datun.
Saat menjalani pemeriksaan AR dan GR diperiksa sejak pagi, bahkan keduanya di temani istri dan pengacara. Hingga akhirnya pada pukul 13:00 WIB Kejari Ciamis menetapkan keduanya menjadi tersangka.
Kedua tersangka langsung di masukan ke mobil tahanan untuk di titipkan ke Lapas Kelas II B Ciamis sebagai tahananan titipan Kejaksaan Negeri Ciamis untu menjalani persidangan.
Jurnalis: FAI