Hilangkan Nyawa GKR, HA Dikenakan Pasal 338 KUHP Tentang Pembunuhan

Kota Sorong (7/10) PW: Kepolisian Daerah Papua Barat menyampaikan perkembangan kasus pembunuhan yang dilakukan HA terhadap GKR di ruang tahanan Polres Sorong Kota. Kapolda Papua Barat Irjen Pol Tornagogo Sihombing melalui Kabid Humas Polda Papua Barat AKBP Adam Erwindi SIK MH didampingi Kapolres Sorong Kota AKBP Ary Nyoto Setiawan SIK MH dan Wakapolres Sorong Kota Kompol Hengky Kristanto Abadi SIK kepada awak media, menyampaikan detail perkembangan kasus pembunuhan tersebut di Mapolres Sorong Kota.

Adam Erwindi menjelaskan perkembangan kasus meninggalnya salah satu tersangka curas yang sebelumnya merupakan pelaku pemerkosaan disertai pembunuhan atas nama GKR yang terjadi pada tanggal 27 Agustus 2020. GKR ini meninggal akibat di aniaya oleh seorang tahanan yang berinisial HA didalam ruangan sel.

Menurut Adam setelah terjadinya pembunuhan terhadap GKR pada 27 Agustus 2020 tersebut, Kapolda Papua Barat Irjen (Pol) Tornagogo Sihombing langsung menurunkan tim khusus. Tim ini dipimpin oleh Dir Krimum dan Kabid Propam untuk melaksanakan penelitian dan pemeriksaan terhadap 35 orang, baik yang didalam sel maupun terhadap personil Polres Sorong Kota.

“Penelitian dan pemeriksaan tersebut mendapatkan hasil-hasil yang terbagi menjadi 3 pokok permasalahan. Pertama GKR melakukan tindakan pemerkosaan dan pembunuhan kepada korban seorang wanita lanjut usia yang berinisial OKH telah ditangkap, namun melakukan sedikit perlawanan sehingga dilakukan tindakan terukur. Kemudian dibawa ke rumah sakit, diobati dalam kondisi kaki ada luka tembak. Tetapi tidak menyebabkan meninggal, kemudian dibawa kembali kedalam sel”, jelas Adam.

Dikatakan Kabid Humas Polda Papua Barat ini, saat kembali kedalam sel tersebut dilakukan penganiayaan oleh HA kepada GKR. Penganiayaan dilakukan dengan cara ditendang, dipukul juga diikat. Dalam pelaksanaan penganiayaan tersebut mengakibatkan GKR yang masih sebagai tahanan titipan tersebut meninggal dunia. Kemudian dilaporkan ke piket Tahti bahwa tahanan pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Namun dalam waktu 5 – 10 menit di rumah sakit, oleh dokter GKR dinyatakan meninggal dunia dengan dilengkapi surat keterangan dari dokter.

Kemudian dilakukan pemeriksaan dan tersangka HA mengakui perbuatannya menganiaya GKR dan menyebabkan meninggal dunia. Penganiayaan yang dilakukan HA kepada GKR dan menyebabkan GKR meninggal, ini dipicu ketidaksukaan HA kepada GKR yang melakukan tindakan pemerkosaan dan pembunuhan kepada korban seorang wanita lanjut usia yang berinisial OKH dan tidak ada motif lain.

“Tersangka HA yang merupakan pelaku kasus curas dan curanmor. Berkas penganiayaan terhadap GKR tersebut sudah lengkap dan dikirim ke kejaksaan. Namun karena ada sedikit kekurangan sehingga di P-19. Kekurangannya ada di hasil labfor CCTV dari laboratorium forensik Makassar. Hasil CCTV akan dikirim ke kami dan akan dilakukan pembenahan kekurangan atau penambahan pasal. Dimana sebelumnya HA ini menjalani kasus curas dan curanmor, HA juga dikenakan pasal 351 ayat 3 penganiayaan menyebabkan kematian”, ujar Adam.

Namun mengatakan bahwa atas petunjuk jaksa maka dimasukkan pasal 338 KUHP yaitu pembunuhan. Berkas atas nama tersangka HA penyebab meninggalnya GKR akan dilengkapi lagi dan sudah berkoordinasi dengan labfor Makassar dan saat ini sedang dalam penjemputan. Jika hasil labfor sudah ada dan lengkap, maka berkas pembunuhan HA terhadap GKR akan dikirim lagi ke kejaksaan dan berharap akan di P-21.

“Sehingga HA dapat mempertanggungjawabkan kasus curas dan curanmornya (begal), juga mempertanggungjawabkan perbuatan pembunuhan terhadap GKR”, beber Adam. Dirinya juga menyampaikan penekanan dari Kapolda Papua Barat terkait minuman keras. Dikatakannya bahwa Kapolda menekankan jika awal dari masalah tersebut adalah miras. Sehingga Kapolda memberikan atensi khusus kepada personil yang ada di wilayah Doom dalam hal pemberantasan miras.

https://peloporwiratama.co.id/2020/10/07/imbas-meninggalnya-gkr-15-personil-polresta-sorong-turut-dihukum

//Jacob Sumampouw

Related posts